Home » , , , , , , , » PERTANIAN DI RAWA LEBAK DAN PENGEMBANGANNYA

PERTANIAN DI RAWA LEBAK DAN PENGEMBANGANNYA

Lahan yang baru dimanfaatkan untuk usaha pertanian relatif masih kecil dan belum diusahakan secara optimal. Padahal dengan penerapan teknologi penataan lahan, pengelolaan lahan, dan komoditas pertanian seara terpadu, lahan lebak dapat dijadikan salah satu andalan sumber pertumbuhan agribisnis yang dapat mendukung ketahanan pangan nasional. Ini telah ditunjukan oleh petani lokal yang telah berhasil mengembangkan berbagai model usaha pertanian dibeberapa lokasi lahan lebak dengan menerapkan teknologi kearifan lokal maupun hasil pertanian.

Ada empat masalah dan tantangan dalam pembangunan pertanian, yaitu :
A.    Berkurangnya lahan subur untuk usaha pertanian
B.    Meningkatnya kebutuhan hasil pertanian khususnya beras
C.    Menurunnya produktivitas lahan sawah akibat faktor lingkungan dan intensivitas pemanfaatan masa lalu, dan
D.    Berkurangnya minat generasi muda yang mau bekerja di sektor pertanian.

Hal tersebut berkaitan dengan laju perkembangan penduduk , industri, sosial, dan budaya masyarakat.  Hasil penelitian para pakar pertanian memperkirakan bahwa bangsa Indonesia akan mengalami defisit beras kurang lebih 10.000 ton pada tahun 2020 yang akan datang.  Sementara itu lahan pertanian subur yang berubah fungsi ke penggunaan non pertanian atau produksi non pertanian.  Periode antara tahun 1981 – 1999 berkurang 1,83 juta ha dan 1999 – 2002 berkurang  667.000 ha.  Jadi dalam satu tahun rata-rata  225.000 ha lahan pertanian berubah fungsi menjadi non pertanian ( Alihamsyah, 2006).
Salah satu alternatif pemecahan masalah dan sekaligus diharapkan dapat menjawab tantangan tersebut adalah dengan memanfaatkan lahan rawa, baik rawa lebak maupun rawa pasang surut sebagai areal  produksi pertanian dimasa yang akan datang. Hal ini disebabkan besarnya luasan lahan rawa yang begitu banyak,
mencapai 13.316 juta ha rawa lebak, belum termasuk rawa pasang surut (Data Bank  Dunia, 1998).  Dilain pihak teknologi pemanfaatannya sudah memadai.

KARAKTERISTIK LAHAN

Lahan rawa lebak adalah lahan yang pada periode tertentu (minimal 1bulan) digenangi air dan airnya dipengaruhi hujan, baik setempat atau aliran air hujan dari daerah sekitarnya.  Berdasarkan tinggi permukaan air dan lamanya genangan air, maka lahan rawa lebak dikelompokan menjadi 3, yaitu :
1.    Lahan rawa lebak dangkal, tinggi permukaan air kurang dari 50 cm dan lama genangan air kurangdari 3 bulan
2.    Lahan rawa lebak tengahan, tinggi permukaan air 50 – 100 cm dan lama genangan air 3 -6 bulan
3.    Lahan rawa lebak dalam, tinggi permukaan air lebih dari 100 em dan lama genangan air lebih dari 6 bulan (Wijaya Adhi, 2000).
Rawa  lebak dangkal umumnya mempunyai tingkat kesuburan tanah yang lebih tinggi, karena pengayaan endapan lumpur yang dibawa air sungai. Rawa lebak tengahan mempunyai genangan air yang lebih dalam dan lebih lama, sehingga waktu surutpun lebih lama.  Bila ditanami padi waktunya bisa lebih belakangan/lama. Sedangkan rawa lebak dalam apabila iklim normal, lahannya masih berair, sering ditumbuhi gulma, terutama jenis Paspalidium.  Wilayah ini merupakan reservoir air dan sumber berbagai jenis ikan perairan umum.  Lahan ini baru  bisa digunakan secara optimal untuk pertanaman  pada saat kemarau panjang


 JENIS TANAH
Jenis tanah yang umum ditemui di lahan rawa lebak adalah tanah mineral dan gambut.  Tanah mineral bisa berasal dari endapan sungai atau endapan marin, sedangkan tanah gambut di lapangan bisa brupa lapisan gambut utuh dan lapisan gambut berselang-seling dengan lapisan tanah mineral.  Tanah mineral memiliki tekstur liat dengan tingkat kesuburan alami  sedang – tinggi dan ph 4 – 5 dan drainase terhambat – sedang.
Setiap tahun lahan lebak pada umumnya mendapat endapan lumpur dari daerah yang lebih tinggi, sehingga walaupun kesuburan tanahnya tergolong sedang, tetapi keragamannya sangat tinggi antar wilayah antar lokasi.  Pada umumnya nilai N total sedang sampai tinggi, unsur P rendah sampai sedang, unsur K sedang,  Lahan rawa lebak dan tanah mineral yang berasal dari endapan marin biasanya memiliki lapisan pirit (FeS2) yang berbahaya bagi tanaman dan beracun  bila letaknya dipermukaan tanah.  Oleh sebab itu reklamasi dan pengelolaan lahan
harus dilakukan secara cermat dan hati-hati agar tanaman bisa tumbuh dan memberikan hasil yang memadai (Alihamsyah, 2005).
Lahan gambut  adalah lahan yang memiliki lapisan tanah gambut, yaitu tanah yang terbentuk dari bahan organik atau sisa pepohonan, berupa bahan jenuh air dengan kandungan karbon organik 20 %.  Berdasarkan ketebalannya lahan gambut yang dijumpai di rawa lebak dibedakan beberapa macam.
Rawa lebak yang bergambut dibagi 4 jenis, yaitu :
1.     Lahan rawa lebak bergambut, rawa lebak yang ketebalan lapisan gambutnya 20-50 cm.
2.     Lahan rawa lebak gambut dangkal, ketebalan gambutnya 50-100 cm
3.     Lahan rawa lebak gambut sedang, ketebalannya 100–200 cm .
4.    Lahan rawa lebak gambut dalam, ketebalannya 200-300 cm.
Adapun tingkat kematangan lahan rawa lebak gambut dapat berupa chemis (matang), setengah matang (sapris), dan mentah (fibris).  Tingkat kemasaman tanah gambut relatif tinggi dengan adanya asam-asam organik yang mengandung H2S .  Sementara ketersediaan unsur hara mikro dan makro seperti P, K, Zn, Cu, Bo dan daya sangga  tanah relatif rendah.  Hal ini memerlukan teknologi pengelolaan dan pemilihan komoditas tanaman harus mendapat perhatian lebih, agar dapat memberikan hasil yang memadai.


MASALAH DAN KENDALA PENGEMBANGAN

Masalah utama pengembangan lahan rawa lebak untuk usaha pertanian adalah kondisi air yang fluktuatif dan sering tidak terduga, hidrotopografi yang beragam dan belum tertata dengan baik.  Kebanjiran pada musim hujan dan kekeringan pada  musim kemarau, terutama lebak dangkal dan sebagian tanahnya bergambut.
Dengan demikian maka pengembangan lahan rawa lebak untuk pengembangan pertanian, khususnya tanman pangan dalam skala besar memerlukan penataan lahan dan jaringan tata air serta penerapan teknologi yang sesuai dengan kondisi wilayah agar diperoleh hasil yang optimal.  Selain itu masalah sosial ekonomi masyarakat serta kondisi kelembagaan, termasuk sarana dan prasarana yang belum memadai bahkan belum ada.
Demikian juga yang menyangkut kepemilikan lahan, keterbatasan tenaga, dan modal kerja serta kemampuan petani dalam memahami karakteristik dan teknologi pengelolaan lahan, penyediaan sarana produksi, prasarana tata air dan perhubungan, jalan usaha tani, pasca panen dan pemasaran hasil pertanian.

RANCANGAN USAHA PERTANIAN

Sebagai langkah awal dalam merancang usaha pertanian perlu dilakukan identifikasi karakter wilayah secara rinci terhadap kondisi biofisik lahan, sistem usahatani, komoditas potensial, kelembagaan, sarana prasarana penunjang, sosial ekonomi petani, dan prospek pemasaran komoditas pertanian yang diusahakan.  Hasil identifikasi wilayah dan karakteristik lahan digunakan sebagai bahan rancangan pengembangan lahan rawa lebak berupa arahan pemanfaatan lahan dan sistem usahatani serta pengembangan infrastruktur dan kelembagaan pendukungnya.
Karakterisasi lahan mencakup pemetaan tanah, pola (lama dan kedalaman) genangan air atau hydrotopografi yang ditujukan untuk melakukan penataan lahan
dan jaringan tata air, pola tanam, pemilihan komoditas, termasuk pola peningkatan
kapasitas petani.  Tim pelaksana karakterisasi adalah BPTP, Dinas lingkup pertanian, dan Kimpraswil.  Data dan informasi yang diperoleh ditabulasi dan dianalisis sesuai dengan metoda tertentu, seperti analisis deskriptif,  kelayakan pengembangan, dan lainnya.
Metoda identifikasi karakterisasi wilayah, antara lain berupa :
  1. Biofisik lahan : pemetaan, survey lapang, walk through, pengambilan contoh dan analisis tanah.  Hasilnya berupa peta tanah, pola genangan air, peta penataan lahan, jaringan tata air, pola tanam, dan komoditas pertanian.
  2. Sistem Usahatani : desk study, PRA dan survey lapang, wawancara terstruktur.  Hasilnya berupa informasi penataan lahan, sistem usahatani, permasalahan usahatani, arahan perbaikan komponen teknologi usahatani.        
  3. Kelembagaan penunjang : desk study, PRA dan survey lapang, wawancara terstruktur.Hasilnya berupa informasi keadaan dan permasalahan kelembagaan pendukung, arahan rekayasa kelembagaan pendukung .
  4. Sosial ekonomi petani : desk study, PRA dan survey lapang, wawancara  terstruktur. Informasi kapasitas dan pemahaman petani tentang karakteristik dan pengelolaan lahan, rekayasa sosial ekonomi untuk meningkatkan  kapasitas petani.
  5. Infrastruktur penunjang : desk study,  PRA, survey lahan.  Hasilnya berupa informasi keadaan dan permasalahan infrastruktur   pendukung,  arahan rekayasa infrastruktur pendukung yang lebih sesuai.
Karakterisasi tanah dilakukan melalui pemetaan dan pengamatan tanah dengan membuat minipit dan mengebor tanah pada jarak 50 – 500 meter, disesuaikan dengan keadaan fisiografi dan penggunaan lahan.  Pengamatan tanah meliputi jenis dan karakteristik tanah,  terutama untuk mendelinesasi tanah mineral dan tanah gambut.  Disamping itu dilakukan penelusuran lapang untuk mengamati faktor fisik lingkungan berupa fisiografi, penggunakan lahan, tinggi dan periode genangan air.  Klasifikasi tanah ditetapkan menurut soil taxonomy yang dikonversi.
Hasil pengamatan pemboran diplot pada peta dasar untuk menyusun jenis tanah, tipe genangan, tipe lahan rawa lebak.  Skala peta adalah 1 : 2.500 untuk lokasi areal percontohan, dan 1 : 50.000 untuk areal pengembangan.
Mengoptimalkan pengembangan lahan untuk usaha pertanian dan diversifikasi hasil dan pendapatan, dalam jangka panjang dilakukan penataan lahan dan air. Adapun lahan rawa lebak dangkal, dapat ditata sebagai sawah tadah hujan, kombinasi.  sawah dan tukungan.  Untuk lahan rawa lebak tengah, dibiarkan alami dan digunakan  untuk usaha perikanan, dan musim kemarau digunakan untuk usaha tanaman pangan atau hortikultura.  Apabila lahan lebak bergambut, jangan ditata sebagai surjan walaupun tergolong laahan rawa lebak dangkal.  Tinggi guludan pada sistem surjan adalah 50 – 75 cm, lebarnya 2 – 3 m.
Bagian sisi petakan surjan dibuat kamalir dengan kedalaman 60 – 100 cm,  yang berfungsi sebagai kelengasan tanah, perangkap ikan  alami pada musim hujan. Pada lahan rawa lebak tengahan dan dalam dapat dibuat jaringan tata air berupa saluran air besar yang berhubungan ke sungai untuk mengalirkan air kepetakan lahan sehingga kedalaman air dapat dikendalikan
Bila mungkin juga digunakan sebagai sarana transportasi.  Saluran air tersebut akan lebih baik bila dikombinasikan dengan pompa air untuk memanfaatkan sungai yang tidak terlalu jauh dari petakan pada musim kemarau panjang. Penataan lahan sistem surjan atau tukungan dapat dilakukan oleh petani perlu percontohan dan penyuluhan.  Pembuatan jaringan tata air dengan pompanisasi perlu usulan,  dan difasilitasi pemerintah.


PENUTUP

Keragaman karakteristik biofisik lahan dan sosial ekonomi, maka sistem usaha tani yang dapat dikembangkan dilahan rawa lebak adalah sistem usahatani terpadu yang berbasis sumberdaya lokal (kondisi dan komoditas yang sesuai) dengan fokus optimalisasi  pemanfaatan sumberdaya pertanian  yang sinergis antar sub sistem.
Dengan demikian pengembangannya dapat menjamin kelestarian sumberdaya alam.  Pemilihan sistem usahatani terpadu bersifat spesifik dan dinamis yang sesuai dengan karakteristik biofisik dan kondisi sosial ekonomi  setempat.
Demikian juga kapasitas petani setempat dan prospek pemasarannya.  Usahatani harus diarahkan pada pengembangan aneka komoditas dalam satu sistem usahatani terpadu sesuai kondisi lahan dan pemasaran hasil.  Penganekaragaman komoditas perlu dilakukan untuk mendongkrak pendapatan dan menguirangi resiko kegagalan usahatani.
Hal penting yang perlu dilakukan untuk pengembangan, adalah  :
1.    Aspek penataan lahan dan pengairan
2.    Pola tanam
3.    Pemilihan komoditas
4.    Teknologi budidaya sesuai karakteristik lahan
Memperhatikan pelaku dan pengembangan usahatani dilahan rawa lebak, ada dua model usahatani yang dikembangkan, yaitu model usahatani berbasis tanaman pangan dan model usahatani berbasis komoditas unggulan.
Usahatani berbasis tanaman pangan diarahkan untuk menjamin keamanan pangan, khususnya bagi petani.  Sedangkan model usahatani berbasis komoditas unggulan dikembangkan dengan skala usaha yang lebih luas dalam perspektif agribisnis dan perusahaan pertanian.

   
DAFTAR  PUSTAKA

Alihamsyah, T, 2005.  Pengembangan Lahan Rawa Lebak untuk Usaha Pertanian.Balittra Banjarbaru.
Kosman E, 2002.  Potensi Usaha Tani di Lahan Rawa Lebak.  Badan Litbang Pertanian, Jakarta.
Lembaga Penelitian IPB, 2002.  Pengembangan Lahan Rawa Lebak di Kab. HSU. Kal-Sel. LP IPB, Bogor.
BPSDP,Wijaya Adhi, 2000.  Pengelolaan dan Pengembangan Lahan Rawa.Puslitannak,Bogor. 
http://www.deptan.go.id/bpsdm/bbpp-binuang/index.php?option=com_content&task=view&id=69&Itemid=1
Share this article :
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. PERTANIAN - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by Blogger